Site Overlay

Idrus Marham Dituntut 5 Tahun Penjara dan Denda Rp300 Juta

Mantan Menteri Sosial (Mensos) Idrus Marham dituntut Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi lima tahun kurungan penjara, dan denda Rp300 juta subsider empat bulan kurungan penjara dalam kasus sangkaan suap proyek PLTU Riau-1.

 

“Menyatakan tertuduh terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah mengerjakan tindak pidana korupsi sebagaimana dalam dakwaan,” kata Jaksa Lie Putra Setiawan, Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (21/3/2019).

 

Idrus bareng mantan Wakil Ketua Komisi VII Eni Maulani Saragih dipercayai menerima hadiah berupa duit total Rp2,250 miliar dalam perkara suap proyek PLTU Riau-1. Suap itu diperkirakan mengalir ke musyawarah nasional spektakuler (Munaslub) Partai Golkar 2017.

 

Dalam pertimbangan jaksa, Idrus yang saat tersebut menjadi Plt Ketua Umum Golkar meminta duit ke bos Blackgold Natural Resources Limited, Johannes Budisutrisno Kotjo melewati Eni, sebanyak USD2,5 juta. Uang tersebut turut dinamakan untuk kebutuhan Munaslub Partai Golkar 2017.

 

Berdasarkan keterangan dari jaksa, Idrus bercita-cita guna menjadi pengganti antar masa-masa Ketua Umum Partai Golkar saat tersebut menggantikan Setya Novanto yang terjerat permasalahan KTP elektronik.

 

“Idrus selaku penyelenggara tugas (Plt) Ketum Golkar saat tersebut meminta uang melewati Eni ke Kotjo guna maju sebagai Ketum Partai Golkar. Didukung dengan bukti pembicaraan antara Eni dan Idrus,” ujar Jaksa.

 

Lie menyinggung bahwa Idrus bareng mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Eni Maulani Saragih memiliki niat guna meminta sebanyak uang untuk pekerjaan Munaslub Golkar Desember 2017, yang diminta dari bos Blackgold Natural Resource Johannes B. Kotjo.

 

Dimana uang itu dengan nilai total sebesar Rp 713 juta dari mula permintaan sebesar Rp2.250 miliar, yang di berikan kepada Wakil Sekretaris Steering Committe Munaslub Partai Golkar, Muhammad Sarmuji.

 

Uang itu diminta guna turut menolong dalam memuluskan proyek PLTU Riau-1 supaya dikwrjakan oleh Blackgold dan China Huadian Engineering Company Ltd, perusahaan yang diangkut oleh Kotjo.

 

Dalam pertimbangan Jaksa, urusan yang memberatkan Idrus tak menolong sama sekali pemerintah dalam pemusnahan korupsi. Sedangkan, urusan yang meringankan tertuduh Idrus bersikap sopan dan koperatif sekitar menjalani persidangan.

 

“Terdakwa belum pernah dipidana sebelumnya,” ujar Jaksa Lie.